Beranda » Mitos Tentang » Penyakit Asma » persepsi salah » Mitos Tentang Penyakit Asma

Mitos Tentang Penyakit Asma

Dilihat 770x | Tags Mitos Tentang, Penyakit Asma, persepsi salah,

Mitos Tentang Penyakit Asma Oktober 2017

Mitos Tentang Penyakit Asma, Asma bronkial, atau ‘asma’ saja atau ‘bengek’, telah amat kita kenal. Tapi, selagi ini wawasan mengenai asma tetap terbatas terhadap gejalanya saja. Seperti sesak napas, dada terasa sakit, batuk berdahak, juga napas berbunyi. Padahal asma tak sanggup disepelekan. Meskipun bukan tergolong penyakit mematikan sama seperti kanker, jikalau kambuh, penyakit ini pass berbahaya.

Menurut penelitian yg dilakukan Asthma UK, sepertiga penderita asma berisiko tinggi mengalami serangan asma yg pass fatal. Prof. dr. Hadiarto, Sp.P(K), FCCP, dokter spesialis paru-paru sekaligus pendiri Rumah Sakit Asri, Jakarta, menggandeng kita mengenal asma dengan cara mendalam, sekaligus menghindari mitos asma selagi ini.

Mitos 1. Obat asma hirup (inhaler) bisa menciptakan kecanduan
Fakta : Tak menciptakan kecanduan. Justru, pengembangan obat asma dalam wujud aerosol yg pemakaiannya memakai sarana inhaler ini ialah kemajuan terpenting dalam pengobatan asma.

Dahulu, obat asma mesti diminum atau disuntikkan. Dalam jangka panjang aspek itu akan mengakibatkan resiko samping, seperti darah tinggi, penyakit gula, tulang keropos, & lain sebagainya. “Dengan pemakaian inhaler, resiko samping tersebut bisa dihindari. Obat serta bekerja segera terhadap sasaran, adalah saluran napas, maka tak tersebar ke mana-mana,” terang dr. Hadiarto.

Dosis yg diberikan pun lebih mungil, yakni 1/20 dosis minum, maka resiko samping lebih rendah. Rata Rata, costumer cuma bakal mengalami seriawan, kalau tak berkumur sesudah penggunaan. “Yang serta masihlah jadi salah kaprah, inhaler dinamakan yang merupakan obat asma. Padahal, inhaler hanyala sarana yg mewadahi obat asma,” ungkap dr. Hadiarto

Mitos 2. Anak penderita asma tentu serta menderita asma
Fakta : Walaupun sebahagian akbar asma bersifat genetis, tetap ada bisa jadi anak dari orangtua penderita asma tak menderita asma. Asma yakni salah satu wujud alergi. Sifat alergilah yg diturunkan orang sepuh terhadap anaknya, & bukan penyakit asma itu sendiri. Sebab itu, mampu saja orang tuanya ‘hanya’ alergi obat, sedangkan anaknya menderita asma.

Satu Buah penelitian yg dipublikasikan oleh American Journal of Repiratory and Critical Care Medicine, menyatakan, seandainya salah satu dari orang lanjut usia satu orang anak menderita asma, sehingga risiko anak tersebut mengidap asma tiga kali lebih agung daripada orang lain yg orang tuanya tak mengidap asma. &, kalau ke-2 orang tuanya menderita asma, sehingga risiko anak tersebut mengidap asma enam kali lebih gede.

Biasanya, asma timbul sejak mungil. Dapat tapi, dr. Hadiarto memaparkan, senantiasa ada barangkali asma timbul di umur dewasa. “Jika asma baru muncul di umur dewasa, umumnya disebabkan oleh aspek eksternal, seperti tradisi merokok, bekerja di lingkungan yg mengandung debu atau polusi, & lain sebagainya,” katanya.

Mitos 3. Asma sanggup disembuhkan
Fakta : Asma yakni penyakit kronis yg dipicu oleh kelainan patologis genetis, sifat alergi yg menyebabkan asma dapat senantiasa menetap. Karenanya, penderita asma tak sanggup terbebas 100% dari penyakitnya itu.

Dapat namun, gejala asma mampu dikendalikan dgn memakai obat pengontrol dengan cara rutin. Kalau gejala asma telah sanggup dikontrol, penderita asma pula mampu beraktivitas seperti orang lain.

Tetapi, masihlah saja, apabila sebuah ketika beliau terpapar factor pencetus, serangan asma mampu berlangsung lagi padanya. Dikarenakan itu, penderita asma mesti menghindari factor pencetus asma yg sanggup berasal dari dalam & luar badan, seperti rasa cemas berlebihan, stres, debu, hawa dingin, bulu binatang, polusi hawa, & lain sebagainya.

Artikel terkait :


Keywords : Mitos Tentang Penyakit Asma ,